oleh Rizki Kusumadewi Saputri,M.Psi.,Psikolog tentang apa yang saya lihat, dengar dan rasakan. Psikologi, Parenting, Resep Masakan dan Semua Tentang Wanita

Rabu, 21 Oktober 2020

,

 

Tips anti galau setelah punya anak ibu bekerja atau di rumah


 Tulisan ini bukan untuk memojokkan ibu bekerja (working mom) maupun ibu di rumah (stay at home mom). Tulisan ini saya persembahkan untuk semua ibu yang baru saja memiliki anak dan galau ingin tetap bekerja atau di rumah mengurus anak.


…karena banyak teman yang bercerita pada saya bahwa mereka galau. Jujur saja, saya juga pernah mengalaminya. Galau, sedih berlebihan, stress hingga tidak nafsu makan dan sulit tidur.

 

Saya adalah salah satu lulusan cumlaude di Magister Profesi Psikologi dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.. Setelah lulus dan menikah, saya ikut suami merantau dari Yogyakarta ke Jakarta. Tidak lama kemudian, saya pun diterima menjadi seorang dosen tetap Fakultas Psikologi di salah satu Universitas ternama di Jakarta.

 

Singkat cerita, saat itu saya sedang hamil 9 bulan. Suatu hari sepulang dari kampus setelah diskusi bersama Wakil Dekan terkait tri dharma dan rencana S3 di luar negeri (dosen tetap di sana wajib S3 dan rekomendasinya ke luar negeri), saya tidak sadar bahwa ketuban saya rembes. Keesokan harinya saya melahirkan anak pertama. Setelah saya pulang dari rumah sakit, saya langsung menyiapkan ASIP (ASI perah) untuk bekal anak saya saat ditinggal bekerja. Tidak tanggung-tanggung, saya sampai menyewa freezer khusus ASI untuk stock ASIP anak saya.

 

Hari terus berlalu. Alhamdulillah stock ASIP sudah memenuhi freezer. InsyaAlloh cukup untuk bekal anak saya nanti. Saya dan suami juga sudah survey daycare untuk anak saya di dekat kampus tempat saya akan mengajar. Sudah cocok dengan program, budget dan suasananya. InsyaAlloh nanti akan saya tulis di judul khusus terkait tips memilih daycare untuk ibu bekerja dan alasan saya kenapa memilih daycare dari pada mencari pengasuh di rumah tahun 2016 silam (tentunya, saat covid 2020 ini sebaiknya anak tetap di rumah dan mencari pengasuh).

 

Tidak terasa, seminggu lagi saya harus menitipkan anak saya di daycare. Entah, tiba-tiba saya jadi sedih melihat wajah anak saya yang sedang pulas tertidur. Saya tiba-tiba menangis sambil membayangkan bagaimana nanti saya bisa mengajar dengan tenang sedangkan anak saya ada di daycare. Saya juga tiba-tiba khawatir apakah dia akan baik-baik saja di daycare. Apakah ASI eksklusif yang saya dambakan akan berjalan lancar? Ah, masih banyak lagi bayangan yang belum terjadi menghantui saya.

 

Semakin dekat dengan hari H, saya semakin stres. Saya sampai tidak nafsu makan, sulit tidur dan berpengaruh juga pada produksi ASIP. Saya merasa berat meninggalkan anak saya padahal semua persiapannya sudah matang. Saya sering mengangis tiba-tiba, terutama saat menatap anak saya yang masih bayi itu. Enggan berlarut sedih, saya mengambil secarik kertas. Saya mulai menuliskan beberapa poin di sana yang saya beri nama LIST PRIORITAS.


"... karena tidak semua ibu mampu menentukan pilihannya dengan cepat. Banyak ibu yang memiliki pertimbangan khusus (termasuk mimpinya) sebelum memutuskan untuk meneruskan bekerja atau menjadi ibu rumah tangga. Hargailah dan terima proses ini karena kita hanya manusia, psikolog juga manusia. Yang Maha Sempurna hanya Alloh. Bersyukurlah kita masih bisa merasakan berbagai macam emosi".

 

Cara Mencatat List Prioritas


  1. Tuliskan “plus” dan “minus” saat memilih merawat anak di rumah.
  2. Tuliskan “plus” dan “minus” saat memilih tetap bekerja
  3. Tuliskan juga kemungkinan solusi yang bisa dilakukan untuk semua pilihan “minus”.
  4. Sampaikan hasil list prioritas pada suami dan orang tua.
  5. Berani mengambil resiko atas pilihan dan jalani dengan sungguh-sungguh apapun pilihannya


Tips anti galau menjadi ibu bekerja atau ibu rumah tangga



Berdasarkan 4 pokok list prioritas tersebut, begini kira-kira isi LIST PRIORITAS saya tahun 2016 silam. Ingat, keadaan saya dan teman-teman berbeda. Jadi, saat menuliskan isi list prioritas ini sesuaikan dengan kondisi keluarga masing-masing. Bisa jadi list prioritas teman-teman akan lebih panjang dari pada list prioritas saya, atau sebaliknya.


List Prioritas Rizki Kusumadewi Saputri


PLUS saat saya memilih TETAP BEKERJA

  1. Memiliki pemasukan sendiri dan dapat membantu perekonomian keluarga
  2. Dapat mengaplikasikan ilmu yang dimiliki dan berkarir sesuai impian
  3. Membanggakan orang tua

MINUS saat saya memilih TETAP BEKERJA

  1. Waktu dengan anak pasti terbatas. Sebagai dosen tetap, harus bekerja full time. Senin-Jumat dari jam 08.00-17.00 WIB. Ada kalanya Sabtu juga masuk. Saya harus berangkat dari rumah pukul 06.00 naik Trans Jakarta/KRL. Pulang sampai rumah juga sudah malam. Waktu saya habis di jalan, maka saya hanya bisa full bertemu anak Sabtu dan Minggu. Solusi: Sebelum dan sepulang kerja serta hari libur sempatkan berinteraksi dengan anak.
  2.  ASI dan MPASI homemade kurang maksimal. Saat pekerjaan padat ada kemungkinan jadwal pompa ASI akan terganggu. Saat sedang stres kerja maupun stres di rumah, produksi ASI pun akan terganggu. Saya tidak siap untuk ini. Diperkirakan saya juga tidak akan sempat membuatkan MPASI homemade karena waktu saya terbatas setiap harinya. Solusi: Menyiapkan ASIP beku dan MPASI homemade beku. Serta mengajari pengasuh untuk menyiapkan MPASI homemade.
  3. Pemasukan berkurang untuk menggaji pengasuh atau biaya day care. Gaji dosen tidak terlalu banyak sedangkan biaya daycare anak saya cukup mahal di area Jakarta. Solusi: Cari sumber penghasilan sampingan
  4. Omongan orang “Ibu bekerja, anak terbengkalai”. Solusi: Percaya diri dengan pilihan karena hanya ibu yang paham kenapa harus tetap bekerja. Suara sumbang di mana saja akan selalu ada.




Plus dan minus menjadi ibu bekerja (working mom)




PLUS saat saya memilih DI RUMAH MERAWAT ANAK

  1. Memiliki banyak waktu bersama anak dan terlibat penuh dalam perkembangannya.
  2. Memiliki waktu istirahat (tidur) sebentar.
  3. ASI dan MPASI homemade lebih maksimal.
  4. Tidak perlu tergesa-gesa bangun pagi untuk berangkat kerja dan menyiapkan keperluan anak ke daycare. Saya tidak sanggup membayangkan kerempongan ini.
  5. Lebih hemat karena tidak banyak mengeluarkan budget untuk make up, transportasi saat kerja, membeli baju dan sepatu kerja, membayar pengasuh/daycare, dll.

MINUS saat saya memilih DI RUMAH MERAWAT ANAK

  1. Mengandalkan gaji suami. Solusi: mulai wirausaha, menjadi psikolog freelance yang bisa kerja Sabtu-Minggu maupun kerja di rumah, minimalkan kredit/cicil barang-barang yang tidak terlalu mendesak untuk berhemat, dll. Alhamdulillah, saya tidak ada tanggungan cicilan apapun.
  2. Aplikasi ilmu dan karir tertunda. Tidak jadi S3 ke luar negeri. Solusi: lakukan hal sederhana untuk aplikasi ilmu psikologi, misalnya menulis blog psikologi maupun parenting, share ilmu psikologi di media sosial, dll. Terkait karir dan S3, masih bisa dicapai nanti saat anak-anak sudah bisa mandiri.
  3.  Omongan orang, “Sekolah tinggi akhirnya ga kerja malah ngurus anak” Solusi: Percaya diri dengan pilihan. Mengurus anak di rumah adalah pekerjaan yang mulia. Lelah mengurus anak dan keluarga insyaAlloh ladang pahala.



Plus dan minus menjadi ibu rumah tangga





Catatan Penting:

  • Jangan lupa berdoa pada Alloh. Minta petunjuk pilihan yang terbaik.
  • Jika kondisi ibu harus membantu ekonomi keluarga, maka tetap bekerja adalah pilihan yang tepat untuk saat ini. Misal: Gaji suami cukup untuk makan 2x sehari, dengan ibu bekerja maka keluarga bisa makan 3x sehari. Jadi maksudnya, dengan ibu ikut bekerja maka semua kebutuhan pokok bisa terpenuhi. Atau misalnya karena suami sakit keras sehingga tidak bisa mencari nafkah maka ibu harus tetap bekerja untuk kelangsungan hidup keluarga, dll.
  • Jika pendapatan suami cukup unuk biaya hidup, ibu rela hidup sederhana/prihatin, ibu rela menunda karir dan ibu ingin menjadi saksi pertama tumbuh kembang anak maka pilihan merawat anak di rumah tepat untuk saat ini.

Berdasarkan deskripsi tersebut terlihat bahwa PLUS saat saya memilih merawat anak di rumah lebih banyak dari pada PLUS saat saya memilih tetap bekerja. MINUS saat saya memilih merawat anak di rumah lebih sedikit dari pada MINUS saat saya tetap bekerja. Jika di baca berulang-ulang, list prioritas tersebut dapat menjelaskan dengan detil latar belakang pilihan saya. Keuntungan menuliskan list prioritas ini adalah semua poin terlihat sangat jelas dan dapat dibaca berulang-ulang, hingga akhirnya dapat menentukan pilihan dengan sadar.

 

Saya sangat paham dan percaya bahwa anak adalah prioritas kita. Kita bekerja pun dilakukan untuk anak, sebagai prioritas. Sayangnya, kita tetap harus memilih tetap bekerja atau merawat anak di rumah. Pilihan ini “sangat” tidak bisa ditunda, mau tidak mau harus diputuskan. Berdasarkan list prioritas yang saya catat di kertas terlihat jelas bahwa faktor lingkungan turut serta. Kesimpulannya, ketika saya memilih untuk tetap bekerja maka saya tidak akan punya waktu untuk anak saya kecuali hari libur. Jelas saya akan melewatkan semua perkembangannya. Figur otoritas untuk anak saya pun jadi kabur karena saya dan suami akan sama-sama sibuk bekerja. Teman-teman yang biasa bekerja di Jakarta pasti paham sekali bagaimana macetnya jalanan. Pulang kerja sudah sore sampai rumah malam hari saat anak sudah tertidur. Berangkat kerja harus sangat pagi agar kebagian KRL maupun Trans Jakarta. Berdasarkan pertimbangan itu, akhirnya saya memilih menunda menjadi seorang dosen dan memilih menemani anak saya berkembang di rumah. Memilih mengajar anak di rumah, meski nyatanya mengajar anak sendiri yang masih balita  ternyata penuh tantangan, hehe..

 

Jujur, tidak mudah bagi saya mendapatkan posisi dosen tetap ini. Banyaknya saingan se-Indonesia mengidamkan posisi ini. Saya terpilih tetapi saya tidak meneruskan kesempatan ini. Padahal, menjadi seorang dosen ini bukan hanya cita-cita saya tapi juga impian orang tua saya. Sedih? Kecewa? Malu? Awalnya iya, karena saya merasa mematikan impian saya dan orang tua. Saya merasa mngecewakan orang tua yang sudah membesarkan saya dan mendukung saya hingga saya seleasi S2 dan menjadi seorang psikolog.

 

Saya juga dulu sempat baper saat rekan sejawat mengunggah foto mereka di media sosial bekerja di sana-sini. Bahkan banyak juga rekan sejawat yang mulai membuka praktek psikologi. Bapernya karena saya belum mampu menjadi seperti mereka yang sukses berkarir karena pilihan saya berbeda. Ya, saya pun sebagai psikolog punya surat ijin praktek tapi saya sadar akan kemampuan diri, waktu saya belum cukup untuk mengurus pekerjaan lain karena saya memilih untuk mengurus anak dan rumah tanpa asisten rumah tangga.

 

Alhamdulillah, orang tua saya menghargai keputusan saya untuk menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Saya lega. Suami juga mendukung keputusan saya ini. Lama-lama saya jadi percaya diri menjadi seorang ibu rumah tangga. Hari-hari bersama anak saya dan menemaninya berkembang tidak membuat saya menyesal. Saya berhasil mewujudkan cita-cita saya untuk memberikan ASI Eksklusif dan dilanjutkan menyusui hingga 2 tahun. Alhamdulillah, anak saya full ASI hingga usianya 2 tahun 3 bulan. Jika saya tetap bekerja, belum tentu saya kuat (seperti ibu bekerja lainnya yang luar biasa perjuangannya untuk ASI) menyiapkan ASIP sampai anak saya 2 tahun. Saya sangat puas dan bahagia hingga saat ini, meskipun menjadi ibu rumah tangga juga lelah dan stresnya luar biasa, hehe..

 

Saat banyak orang tahu saya tidak bekerja, maka banyak sekali pertanyaan dan argumen, “Ga sayang profesi psikolog dan dosennya? Cari kerja kan susah, udah dapet yang bagus malah dilepas. Dulu kamu kan aktif banget, sekarang jadi IRT, IPK bagus, lulusan UGM lho! Ih, kamu sekolah tinggi akhirnya di rumah juga!” saya dengan bangganya menjawab, “Ilmu psikologinya spesial untuk anak-anak, keluarga dan temen deket. Jelas ga sia-sia IPK bagus lulusan UGM jadi IRT, karena ibu yang berwawasan luas itu penting untuk menemani anak berkembang. Saya dan anak saya jelas butuh itu”.

 

Itulah sebabnya kenapa saya menuliskan lulusan cumlaude dan Universitas saya di awal, karena inilah beban saya yang menjadi buah bibir banyak orang. Semua orang melihat pencapaian saya ini sebagai prestasi dan menaruh ekspektasi lebih pada saya. Menjadi seorang psikolog, dosen dan akan S3 ke luar negeri lalu menjadi seorang yang sukses dalam karir. Ternyata, saya tidak bernyali untuk mewujudkan semua mimpi itu sekarang, entah itu mimpi saya atau mimpi untuk orang lain. Saya sangat paham bahwa saya tidak bisa berperan ganda. Akhirnya, saya memilih dengan sadar dan penuh keyakinan bahwa anak lah yang menjadi prioritas saat ini. Bagi saya, masa emas anak saya tidak bisa diulang, tapi pekerjaan dan karir masih bisa dibangun kapan saja.

 

Lalu, sekarang masih baper lihat rekan sejawat sudah memiliki pencapaian dalam karirnya? Jawabannya tidak, karena semua orang punya pilihan dan berproses masing-masing. Saya konsisten dengan pilihan saya dan serius menjalaninya. Rejeki sudah di atur Alloh, prioritas juga sudah kita pilih sendiri jadi kenapa harus baper. Malah, saya kagum pada teman-teman yang kuat menjadi ibu bekerja sekaligus ibu rumah tangga. Harus profesional saat di kantor dan menjadi ibu rumah tangga saat pulang ke rumah. Jujur, saya tidak akan kuat menjalani peran ganda tersebut. Lelah dan stresnya pasti berlipat-lipat tapi bisa terus profesional. Salut!

 

Semoga, tulisan saya ini bermanfaat. Terutama untuk ibu baru yang masih sangat galau memilih tetap bekerja atau merawat anak di rumah. Intinya, semua pilihan ada resikonya. Setelah memilih, jangan lupa bersyukur dan jalani apapun pilihan kita dengan sungguh-sungguh. Terkhusus untuk ibu rumah tangga, kita juga tetap bisa produktif di rumah sambil mengurus anak. InsyaAlloh akan saya bahas di tulisan selanjutnya. SEMANGAT!

 


BONUS CERITA

Saya bingung mau menyisipkan penggalan cerita ini di mana. Akhirnya saya tulis di bagian bawah ini. Setelah saya memilih menjadi IRT seutuhnya, gejolak ingin bekerja pernah kembali hadir. Saat itu usia anak saya 1 tahun. Saya mendaftar lagi sebagai dosen tidak tetap Fakultas Psikologi di salah satu Universitas Negeri di Jakarta. Saya lolos mulai seleksi berkas, psikotest hingga wawancara Dekan. Saya pikir, dosen tidak tetap ini hanya mengajar jika ada jadwal mata kuliahnya saja. Jadi, bayangan saya dalam seminggu mungkin akan mengajar 1-3 kali dan selesai mengajar bisa pulang. Sayangnya, saat wawancara Dekan berlangsung membuat saya makin galau. Dosen tidak tetap di sana tetap masuk Senin-Kamis jam 08.00-17.00. Saya sempat nego untuk masuk 2-3x seminggu saja, namun sepertinya tidak bisa. Berat hati, saya harus merelakan lagi impian saya menjadi dosen, hehe.. Inilah terakhir kali saya mendaftar menjadi dosen.


Sebulan kemudian Wakil Dekan menghubungi saya dan bertanya apakah masih berminat menjadi dosen di sana. Saat itu saya menjawab bahwa ternyata saya benar-benar tidak bisa menghabiskan banyak waktu di luar. Saat ini memang benar anak saya yang paling butuh kehadiran dan waktu saya seutuhnya. Wakil Dekan pun paham dan mempersilahkan saya untuk merawat dan mengutamakan keluarga. Alhamdulillah, sampai saat ini hubungan kami masih sangat baik. Maafkan saya yang galau dan PHP ini, hehe.. 


Jumat, 09 Oktober 2020

,

#POPAC2020


Pertama kali menjadi seorang Mama, selain banyak belajar dari orang tua dan keluarga, saya banyak belajar pola asuh dari buku dan media internet. Jaman canggih begini sangat mudah bagi saya untuk mengakses informasi di media sosial. Hampir semua informasi yang saya butuhkan dapat ditemukan di sana.


Jujur saja, saya tidak sembarangan memilih informasi dari media sosial. Berbekal pengetahuan ilmu psikologi yang saya dapatkan saat kuliah, saya lebih selektif dalam memilih informasi khususnya pola asuh. Salah satu akun yang sering saya akses untuk mendapatkan informasi terkait pola asuh adalah Popmama.com.


Popmama.com


Popmama.com adalah website parenting nomer 1 di Indonesia tahun 2020 (Comscore Unique Visitor, Januari-Maret 2020). Popmama.com tidak hanya memberikan informasi tentang pola asuh saja, tetapi informasi terkait kehamilan, keuangan, MPASI, resep-resep untuk ibu dan bayi juga tersedia. Popmama.com juga sering mengadakan online talk show di instagram. Mulai dari psikolog, ahli gizi, dokter kandungan, ahli finansial, dan ahli lainnya rutin memberikan informasi secara live di instagram. Silahkan follow instagram @popmama_com  untuk mengakses informasi dan mengikuti online talk show rutinnya.

 


Instagram Popmama.com

 

Program Popmama.com yang paling saya tunggu adalah Popmama Parenting Academy (POPAC). Tahun ini adalah tahun ke tiga POPAC. Setelah dua tahun berturut-turut POPAC diadakan offline dengan diikuti lebih dari 7000 Mama dan Papa, kali ini POPAC digelar secara virtual pada tanggal 28 September-3 Oktober 2020. POPAC virtual ini diselenggarakan untuk menjaga physical distancing di masa pendemi ini. Program ini sangat saya tunggu-tunggu karena program ini bermanfaat bagi saya, suami dan anak-anak.




Video #POPAC2020


POPAC ini dirancang khusus sebagai tempat belajar keluarga millenial karena Popmama.com ingin sekali membantu para keluarga millenial menghadapi tantangan khususnya dalam hal pola asuh. Program ini tentunya sangat penting dan cocok sekali untuk calon orang tua, orang tua baru maupun orang tua yang sudah memiliki anak.

 

Semua kelas Popmama Parenting Academy Online 2020 bisa diikuti secara GRATIS dari instagram melalui fitur IGTV, website POPAC dan Popmama.com, whatsApp, YouTube live dan webinar melalui Zoom.


#POPAC2020


Bagi yang ingin mengikuti kelas kulwhap (kuliah whatsApp) dan webinar bisa langsung mendaftarkan diri di link yang tertera pada bio instagram @popmama.parenting.academy. Sementara untuk kelas di microsite dan YouTube live, kelasnya bisa diikuti tanpa mendaftar.




Manfaat utama Popmama Parenting Academy Online 2020 yang saya rasakan adalah rasa aman dan nyaman untuk belajar di tengah pandemi. Suami dan anak-anak pun dapat sekaligus ikut belajar sambil santai di rumah. Manfaat lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu:


Meet the Expert

Kita bisa mengikuti sesi talk show dan work shop bersama para ahli di bidangnya dari berbagai latar belakang, seperti artis, wirausahawan, psikolog, ahli gizi, dokter kandungan, ahli finansial dan masih banyak lagi. Narasumber ini sudah memiliki pengalaman yang bisa dibagikan kepada keluarga millenial yang baru memulai perjalanannya sebagai orang tua.


Popmama Parenting Academy 2020


Ilmu yang dibagikan sangat beragam, mulai dari kehamilan, melahirkan, gizi, kecerdasan hingga kesehatan fisik dan mental orang tua maupun anak. Berbincang dan berbagi ilmu bersama para ahli tentunya akan memperkaya pengetahuan kita. Pada sesi ini, kita juga bisa sharing pengalaman dan mendapat solusi dari permasalahan yang sedang kita hadapi dari para ahli.


Community Meet Up

    Kita dapat bertemu dan berkomunikasi sesama millenial Mama. Berbincang, sharing pengalaman, bercerita, berdiskusi dan berbagi hal seru lainnya secara virtual. Manfaatnya adalah semakin banyak teman baru untuk berdiskusi masalah keluarga. Hal ini sangat penting agar kita sadar bahwa kita tidak sendirian. Banyak mama lain di luar sana yang sebenarnya juga sedang berjuang menemani anak-anaknya berkembang. Mereka juga letih, stres, merasa kesepian, terkadang sedih, marah dan butuh banyak dukungan sama seperti kita.  


     Entertainment, Online Bazaar dan Product Review


#POPAC2020

Manfaat terasyik dalam program ini menurut saya adalah belanja online dengan banyak penawaran spesial (exclusive deals) selama POPAC 2020 berlangsung. POPAC 2020 bekerja sama dengan Tokopedia sehingga kita bisa belanja murah namun kualitasnya tetap terjamin. Pastinya kita akan lebih hemat dan dapat menyisihkan uang belanja kebutuhan anak untuk kebutuhan lainnya.


Online Competition
Lomba Blogging #POPAC2020


Kita juga memiliki kesempatan untuk mendapatkan uang tambahan dengan total jutaan rupiah dengan mengikuti lomba blogging dan my family photo contest secara online. Selain uang tunai, tersedia juga voucer belanja dan microwave Beko. Seru, ya!


Manfaat Popmama Parenting Academy


Kesimpulan yang saya ambil dari serangkaian program Popmama Parenting Academy ini bermanfaat sebagai kunci sukses mengasuh anak. Kelas-kelas online yang diberikan para ahli memperluas wawasan saya dalam pengasuhan. Mulai dari menyiapkan kehamilan, merawat calon bayi dalam kandungan, merawat bayi saat lahir, belajar membuat makanan yang sehat untuk bayi, merawat anak berkebutuhan khusus, manajemen stres agar kesehatan fisik dan mental keluarga terjaga hingga pengelolaan keuangan dibahas secara detil dalam program ini.


Berbincang dengan ahli dan bertemu sejawat di komunitas membuat saya (sebagai Mama) lebih tenang, lebih lega dan lebih percaya diri dalam merawat anak-anak di rumah. Program ini juga salah satu wadah me time terproduktif bagi saya, karena Mama yang berwawasan luas, sehat secara fisik dan mental akan menjadi Mama yang bahagia dan memberikan pola asuh positif. Inilah kunci sukses merawat anak-anak dan keluarga. Kunci untuk pantang menyerah ketika berhadapan dengan tantangan pengasuhan di masa depan.


Harapannya, dengan Mama yang bahagia dan pola asuh yang positif dapat melahirkan anak-anak yang bahagia dan memiliki pola asuh positif juga kelak. Hal ini sangat penting untuk menghasilkan generasi terbaik bagi masa depan Indonesia.


Rundown #POPAC2020


Nah, setelah membaca tulisan saya ini adakah yang pernah mengikuti atau tertarik mengikuti serangkaian program Popmama Parenting Academy ini? Saya sih, YES!




Video Serunya POPAC Online 2020 #POPAC2020




Sumber-sumber:

Foto: instagram @popmama_com dan @popmama.parenting.academy

Gambar pada infografis: jatim times, lovepik, pinterest, pngtree

https://popac.popmama.com/

https://www.popmama.com/tag/popac-2019

Infografis: Rizki Kusumadewi Saputri

Olah grafis: Rizki Kusumadewi Saputri

Video: instagram @popmama.parenting.academy

Follow Us @pawonkulo